May 25, 2013

sasuhina fanfiction love violetlyrics

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
By: Admin J
.
.
.
"Jadi bagaimana jawabanmu?"

Fugaku Uchiha, pemimpin clan Uchiha yang sudah mulai memasuki umur ke 50 memaksa kedua anaknya untuk segera mengakhiri masa lajang mereka. Dia berharap sebelum kematian datang bisa melihat pernikahan Sasuke dan Itachi, akan lebih membahagiakan jika bisa mendapatkan cucu dari keduanya. Itachi sudah lebih dulu menikah bersama Karin, wanita yang dia pacari selama 4 tahun. Namun nasib bersama wanita pilihan sendiri tidak berpihak pada adiknya.

"Aku menerima perjodohan ini"

Sejak kecil Sasuke ingin Fugaku tidak memandang rendah dirinya. Perbadingan yang jauh terhadap Itachi sering membuat minder, Sasuke ingin diakui oleh Fugaku sebagai anak hebat melebihi Itachi. Mau bagaimana lagi, dewa fortune jarang hinggap di pundaknya, Sasuke tidak pernah menolak keputusan Fugaku supaya tidak mengecewakan.

Malam itu keluarga Uchiha berkunjung ke kediaman Hyuuga. Fugaku bersahabat lama dengan Hiyashi, hanya ada satu pilihan calon pasangan untuk Sasuke dalam benaknya. Sasuke diberi cap playboy selama sekolah menengah atas, tidak bisa dipastikan sudah berapa wanita yang dia kencani bahkan mungkin tak terhitung. Mengapa Fugaku mengambil tindakan untuk pernikahan instan? Sasuke tidak pernah membawa seorang gadis ke rumah, Ibunya saja hampir setiap hari berceloteh 'kapan kamu akan menikah, Sasuke?' 'sesekali bawa wanitamu kesini, Sasuke' dan bla bla bla.. Sasuke masih muda, dia cukup sukses dalam memimpin perusahaan Uchiha Company, mana ada yang tidak mau dengannya? Masih ada kemungkinan seseorang menolak.

"Sepertinya anak bungsu ku sudah menyetujui, bagaimana dengan calon wanita nya sendiri?" 
Tanya Fugaku, menatap pada seseorang berpakaian Kimono di samping Hiyashi

"Ayah hanya akan setuju jika kamu tidak memaksakan diri, Hinata" Tambah Hiyashi. Dia sebenarnya mengharapkan Hinata bisa segera berkata 'iya'. Dia menghargai Fugaku, sudah pernah direncanakan sejak awal Hiyashi ingin memiliki menantu dari salah satu keturunan Uchiha.

"Aku mengerti. Dengan senang hati menerima pernikahan ini" Jawaban lantang tanpa gagap diucapkan oleh Hinata

'Kenapa kamu dengan mudah menerima perjodohan ini, baka!' Ucap Sasuke dalam hati

'Aku tidak sudi memiliki anak dari si kepala pantat ayam' Hinata juga bergumam sendiri

"Baiklah. Akan segera kita adakan upacara pernikahan. Besok kalian harus sudah siap" Fugaku menyediakan semua kebutuhan pernikahan sejak sebulan yang lalu
"Hah, besok?!" Sasuke mengeryit

"A-apa ini tidak terlalu cepat, Uchiha-san?" Hinata belum siap tinggal satu atap bersama Sasuke

"Lebih bagus kan? Ayah dan Tuan Fugaku bisa menebak perjodohan ini akan berhasil" Kedua pria tua ini tersenyum lebar sedangkan anak-anak mereka lesu kekurangan darah

~~~
Sasuke dan Hinata sudah resmi menjadi satu keluarga. Mikoto menahan Sasuke untuk tinggal di rumah keluarga besar Uchiha, tapi dia menolak karena akan menjadi bumerang seandainya Mikoto tahu bahwa Sasuke tidak akan adem ayem bersama sang istri baru.

"Sasuke jangan pergi dulu ya, malam pertamanya di rumah ini saja" Pinta Mikoto, berdiri di dekat pintu kamar melihat anaknya membereskan baju-baju ke dalam tas besar

"Aku sudah membeli sebuah apartemen, Bu. Tenang saja aku hebat dalam menaklukan wanita di ranjang, ibu tidak perlu mengajariku" Jawaban ini cukup membuat ibunya tercengang

"A-ano Ibu hanya ingin memastikan kamu dan Hinata tidak berantem" Mikoto membantu Sasuke melipat pakaian

"Arigatou, kaa-san" Sasuke memeluk tubuh ibunya

"Kamu sudah dewasa sekarang, nak. Ibu bangga padamu.." Kalimat ini membuat Sasuke terbang, tapi itu belum selesai "..jika kamu bisa memberi ibu cucu, 4 anak bagus kayaknya." Rasa bahagia mendengar kata 'bangga' seketika luntur setelah mendengar kalimat terakhir dari Mikoto

"Kalau begitu aku pergi sekarang, kasihan Hinata sudah menungguku di luar" Modus untuk pergi dari tekanan 'memiliki cucu' kalimat khas Mikoto

"Hati-hati di jalan.." Mikoto mengantar Sasuke dan Hinata ke depan gerbang

Mobil yang ditumpangi melaju kencang meskipun saat Hujan. Sasuke terlatih dalam mengendarai kendaraan sehingga tidak khawatir berlari di jalanan licin sekalipun. Penumpang dan si penyetir tidak terlihat bahagia di hari pertama mereka menjadi suami istri. Mereka tetap memandang berlawanan dan tak ada komunikasi.

CLEKK. Pintu terbuka, satu apartemen sederhana pilihan Hinata disetujui oleh Sasuke. Tapi Sasuke lah yang mengurus isi dalam rumah yang akan ditinggali oleh mereka.

"Hah, kenapa barangnya sedikit sekali" Ucap Hinata, dia masuk ke dalam ruangan lebih awal dari Sasuke.

"Kamu memilih tempat kecil ini, aku hanya tidak mau terasa pengap" Sasuke membawa tas berat miliknya

"Ya tapi ngga ada kasur sama sekali? Mau tidur dimana kita?" Hinata mengerutkan dahi

"Tuh!" Sasuke menunjuk pada satu benda "Aku bisa tidur di sofa itu. Dan kamu dilantai" Jawaban kejam, kamu tidak menghargai wanita =3=

"Terserahlah.." Hinata melihat-lihat kembali

Dalam kamar ini hanya ada satu refrigerator dua pintu, tempat memasak yang menyediakan kompor gas dan wastafel untuk mencuci piring, wastafel dan cermin untuk mencuci wajah, kursi empuk besar panjang serta satu kamar mandi.

"Sasuke, tempat itu transparan" Hinata bergidik melihat kamar mandi yang hanya dibuat dari potongan kaca tembus pandang dan satu shower, di dekat pintu masuk. "Kamu bodoh!"

"Kalau aku bodoh kenapa kamu mau jadi istriku, hah?" Sasuke memberi tatapan sharingan pada Hinata

"Aku hanya tidak ingin mengecewakan ayah" Ternyata alasan mereka sama

"Bereskan barang-barangmu, aku akan pergi ke luar" Sasuke hanya menaruh tasnya di pojok ruangan kemudian dia pergi

"Peduli amat.." Hinata menata kembali ruangan itu. Dia memesan beberapa barang dari toko langganannya

~~~
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Sasuke belum kembali ke apartemen. Hinata sedikit mengkhawatirkannya, bagaimanapun juga dia adalah istri sahnya sekarang
"Terpaksa aku tidur di sleeping bag" Hinata memakai sebuah tas berbentuk tubuh manusia, bahannya lumayan tebal sehingga terasa hangat di cuaca dingin hujan rintik seperti sekarang

"Tadaimaa~" Suara Sasuke terdengar oleh tetangga kamar tapi tidak ada jawaban dari ruangan miliknya. Jam satu dini hari Sasuke baru pulang, bisa ditebak dia pergi ke tempat para wanita malam untuk melampiaskan emosi.

"Kau paham sekali apa keinginanku." Sasuke melihat Hinata yang tidur di lantai. "Eehhh.." mata Sasuke terfokus pada kain-kain gorden yang menutupi kaca tempat mandi "Hey, sejak kapan ada kain berenda ini di kamarku?" Sasuke berbicara dengan suara yang keras "Dan i-ini panci, alat menanak nasi, wajan, lemari pakaian anak kecil, apa yang terjadi di ruanganku?!" Sasuke langsung menuju satu orang dihadapannya

"HINATA KENAPA KAMU MEMBELI BARANG TIDAK BERGUNA INI DAN MENGISINYA KE KAMARKUU!!!" Tubuh Hinata di jumpalitkan seperti kepompong dengan bungkusan sleeping bag

"Aduuh.." Hinata kaget dibangunkan dengan cara tak berperasaan tadi "What the hell are you!" Teriak Hinata

"Sebentar, apa yang kamu katakan tadi?" Sasuke mengangkat wajah Hinata

"Apaan sih kamu ini hah? Baru datang ke rumah langsung banting tubuh orang" Hinata membuka resleting kantungnya dan berdiri sejajar dengan Sasuke

"Kamu tidak berhak memasukkan benda-benda aneh ke dalam kamarku!" bentak Sasuke

"Kamu pikir kompor saja bisa membuatkanmu makanan? Oh yeah, HENTAI. Kamu sengaja kan membuat kamar mandi transparan itu supaya bisa melihatku saat mandi? dan satu lagi, ini bukan hanya kamarmu tapi kamar Hinata Hyuuga juga!" Hinata menarik kerah baju Sasuke

"Wajah lugumu ternyata hanya topeng untuk menutupi kelakuan brutal, mau berapa ronde untuk bermain smackdown denganku, hah?" Sasuke melepaskan tangan Hinata dari lehernya

"Kamu tidak tahu apa-apa tentangku, jangan sok tahu deh"

"Kita buat perjanjian. Jangan saling ikut campur urusan masing-masing, kita tidak saling terikat dan aku bukanlah pria yang diatur oleh wanita" Sasuke duduk di sofanya

"Baik, aku setuju" Hinata sangat kesal

"Lepaskan gorden penghalang itu! Gambar dan desainnya tidak menarik" Sasuke mengungkit kamar mandi lagi

"Lah, kamu benar-benar keras kepala" Hinata meledak akhirnya
Sasuke berjalan dan melepas kain dari kacanya "Lagian siapa juga yang akan menguntitmu, geer banget" Ucap Sasuke, dia melemparkan gorden itu ke tempat sampah

"Baka baka baka!" Hinata segera tidur tengkurap tanpa bag.

"Cih.." Sasuke juga mulai merebahkan tubuhnya

Kedua orang ini tertidur pulas. Tubuh yang lelah setelah bertengkar membuat mereka mengantuk.

"Orang ini pemalas sekali jam segini masih tidur" Ucap Sasuke. Dia baru selesai mandi dan berpakaian untuk pergi ke kantor. "Tidak pantas menjadi istriku, malangnya nasibku"

Dia meninggalkan ruangan pukul 7 pagi. Hinata masih dalam keadaan tengkurap tanpa berpindah tempat. Dia memang paling suka tidur, bisa dibilang hobi

***
"Sasuke, ayo ceritakan bagaimana first night mu bersama Hinata" Naruto, asisten pribadi Sasuke menggodanya tentang hal pribadi.

"Tidak akan ada pria yang menceritakan aktifitas ranjang mereka ke orang lain, kecuali jika kamu seorang penggosip ember seperti Sakura" Sasuke membuka berkas-berkas bisnis penting.

"Aih" Kemeja Naruto melorot dari bahunya "Ta-tapi kamu sudah ehem dengan istrimu? Kamu tahu banyak yang sudah mengantri ingin menjadi suaminya, ya termasuk aku sendiri" Naruto mengecek ulang semua kertas yang sudah diberi tulisan Sasuke

"Oh, jadi kamu suka pada Hinata? kenapa kamu tidak melamarnya dari dulu?" Terasa sesuatu menggebrak hatinya

"Aku sudah beberapa kali melakukan hal itu tapi Hiyashi selalu menolakku. Ayah protektif ini tidak diduga akan menikahkan anaknya dengan cara perjodohan"

'Haha.. kamu tidak seberuntung aku' Eh, pikirannya berkata bahwa dia beruntung?

"Awas aja kalau kamu menyakiti Hinata, kita putus!" Bentak Naruto

"Oke, fine. Aku bukan pacarmu, dobe" Sasuke tertawa terbahak-bahak

"Maksudku putus persahabatan kita" Naruto bergegas keluar ruangan "Jaa-nee"

"Bocah ingusan selalu saja ikut campur urusan orang" Sasuke teringat pada wajah Hinata yang tadi malam memerah karena marah "hah, kenapa wajah itu muncul di kepalaku"

Drrt..drrtt.. Ponsel Sasuke bergetar menandakan pesan masuk.

'Aku sudah pulang dari Thailand. Sambut aku di kantormu. Lovely.. Konan'

Sms ini berkesan memberitahu pada pemilik ponsel untuk menunggunya

***
"Sasuke-kun wajahmu tetap sama seperti dulu. Bagaimana kabarmu?" Ucap wanita yang baru saja masuk ke ruang kerja Sasuke. Bertopi hitam dengan jaring diwajahnya membuat paras Konan tidak dikenali oleh siapapun di kantor kecuali Sasuke sendiri.

"6 Tahun tidak berjumpa, aku baik-baik saja" Pelukan hangat diberikan pada Konan. 

"Bekerja sebagai model pasti sangat sibuk, tubuhmu semakin kurus, Konan"

"Aku tidak bisa membuat tubuhku melebar karena itu akan terlihat jelek di depan kamera" Konan membuka topinya, dia berpakaian serba warna hitam dengan lipstick merah darah terlalu tebal. Dia merupakan salah satu model majalah dunia dan artis terkenal.

"Padahal dulu tubuhmu segede gentong. Haha" Sasuke bercanda keterlaluan

"Ih, itu kan saat aku masih SMA. Saat itu kamu menyukaiku tapi kenapa setelah aku cantik kamu pergi meninggalkanku?" Konan ingat jaman disaat Sasuke menjadi pacarnya

"Karena aku tidak suka memiliki wanita yang tubuhnya di ekspos di depan orang lain. Aku tahu kamu sempat tidur dengan salah satu produser ternama. Sudahlah, kamu disini bukan untuk mengajakku perang" Sasuke kembali duduk ke kursi panasnya

"By the way, kamu sudah menikah?" Tanya Konan. Dia merangkulkan tangannya di leher Sasuke dari belakang

"Lepaskan" Tangan itu ditolak oleh Sasuke "Ya, aku sudah punya istri"

"Karena perjodohan? Masih ada jaman sekarang melakukan hal itu, ini bukan jaman siti nurbaya lagi" Konan geram selalu tidak diterima oleh Sasuke

"Aku mencintainya" Kalimat ini hanya untuk menegaskan pada Konan bahwa Sasuke tidak mau terhalang masa lalu

"Oh, begitukah? Sokka.. Aku akan mencari apartemen terdekat. Bye" Konan meninggalkan Sasuke, hatinya sudah beberapa kali tersayat oleh pisau tak berwujud, orang yang tak mungkin kembali padanya menghancurkan hati berkeping-keping

~~~
"Sasuke kamu bisa main kartu?" Hinata mengambil satu botol Sake lumayan keras alkoholnya, dan satu poket kartu remi.

"Mau main?" Tanya Sasuke, membantu Hinata mempersiapkan gelas

"Iya dong. Sekali kalah hukumannya minum sake ini satu gelas. Gimana?" Hinata duduk dilantai berhadapan dengan Sasuke

"Oke"

Permainan sederhana bahkan terlalu mudah ini dimulai. Hinata yang membagi kartu

"Tinggal jack bakung.." Ucap Hinata, dia sudah siap meleparkan kartu kemenangan di depan musuhnya

"SERI!" Empat kartu love yang sempurna dikeluarkan oleh Sasuke. "Kamu kalah.. Hinata kalah.." Sasuke menuangkan minuman fermentasi ini ke dalam gelas

"Sial. padahal satu lagi!"

"Nih, minum sampai habis" Sasuke menyodorkan minuman pada Hinata

GLEK.. Satu kali tegukan air di dalam gelas habis "Ayo, lanjutkan"

3 kali, 5 kali, 10 kali, sake sudah habis sebotol. Sasuke hanya pernah satu kali minum, 

Hinata keleyengan, wajahnya memerah karena mabuk

"Aaa~ kenapa aku selalu kalah.." Suara cegukan mulai terdengar

"Sudah Hinata, permainannya selesai. Kamu mabuk berat" Sasuke membantu mengangkat tubuh Hinata ke kursi

Wajah Hinata yang merona sangat terlihat cantik. Rambutnya tergurai, matanya terpejam.

"Cih, tubuhmu bau alkohol" Ucap Sasuke, dia mencium aroma menyengat dari lawan jenisnya

"A-ku.. pasti.. a-kaan me-ngalah-kan mu, Sasuke" Tangan Hinata mengepal

"Hey kamu sudah tak berdaya masih mau melawanku" Sasuke terbawa emosi sedikit

"Kenapa gerah sekali sih" Hinata membuka kancing baju tidurnya, namun dihentikan oleh Sasuke

"AC daritadi hidup masih dibilang panas? Jangan buka bajumu dihadapanku.." Lengan Hinata berhenti, dia kembali lunglai "Hinata, apa yang kamu pikirkan tentang Sasuke?" Dalam momen tanpa kesadaran, Sasuke ingin bertanya pada Hinata

"Sasuke? Ah, dia tampan. Tubuhnya berotot bagus, rambutnya aneh seperti pantat ayam, dia keras kepala, pemaksa, cabul, playboy, dia pasti sudah tidur dengan banyak wanita diluar sana" jawab Hinata, suara masih jelas meskipun sedang tidak sadarkan diri

"Cabul? pantat ayam? Kalau kamu sadar aku sudah menendangmu ke venus! Aku tidak pernah tidur dengan siapapun" Sasuke masih punya beberapa pertanyaan yang ingin dia ketahui jawaban jujur dari Hinata.

"Kamu pernah menyukai seseorang?" Tanda apa ini ya.. hoho

"Aku pacaran sama Sasori.."

"Kapan?" Kalimat Hinata dipotong oleh Sasuke

"Hm, 3 Tahun yang lalu, Udah lama aku putus" Kepala Hinata ambruk di pangkuan Sasuke. Disana tidak ada bantal, kasihan..

"Oh. Trus sekarang ada pria yang kamu sukai?" Sasuke membiarkan Hinata tidur di tubuhnya

"Bodoh! Aku sudah menikah kenapa menyukai orang lain? Tidak ada yang aku sukai.." Jawaban ngawur tapi jujur

"Jadi kamu suka pada Sasuke?" Eh, Sasuke bertanya tentang ini karena motif apa?

"Mana mungkin itu terjadi, tidak ada chaemistry diantara kita. Sudah menikah pun aku tidak mau melakukan seks dengan.."

Sasuke mencium bibir Hinata

GEPLAK.. "Hey anak muda, sebelum bertindak minta ijin dulu dong" Hinata masih eling

"Aku akan membuatmu menyesal karena berkata tidak mau bermain seks denganku" Sasuke membangunkan tubuh Hinata. Dia berpose duduk menyandar, Sasuke kembali mencium 
istrinya ini

"Henti-kan, aduhh.." Hinata menolak tapi tubuhnya lemas karena efek alkohol

"Jangan pernah lupakan malam ini, Hinata"

~~~
Suara ayam berkokok dari ponsel Hinata, itu adalah nada dering alarm yang disetting olehnya. Matahari terbit, hujan sudah hilang, pagi akhirnya datang.

"Kepalaku rasanya puyeng.." BRUKK. Tubuh Hinata jatuh dari atas. "Aww, pagi-pagi sudah sial begini.." Hinata membuka matanya, dia tidak biasa tidur di sofa milik Sasuke. "Kenapa aku telanjang?" Tanya Hinata

Dilihat juga sosok pria tanpa sehelai benang di depan wajah Hinata

"Aaaaaaa~~~~" Suara teriakan melengking ini membangunkan Sasuke yang masih tidur

"Hinata, ada apa sih teriak-teriak?" Sasuke menggosok matanya yang lengket karena ngantuk

"SASUKE! KIAMAAT!!!"

"Kapan kiamat?" Sasuke masih terlihat tenang di kursinya, kakinya mengangkang seperti layaknya kebiasaan cowok *bener kan?*

Hinata menutup tubuhnya dengan kain bekas amparan di lantai tadi malam saat bermain kartu

"Bra ku! Bajuku!" Diambil pakaiannya yang berserakan di lantai "Sasuke jelaskan tadi malam ada apa, kenapa kita telanjang kayak gini?" Hinata menutup matanya dengan tangan, tidak mau melihat Sasuke dalam keadaan begitu

"Oh, kamu mabuk. Kita bersenggama, ah capek rasanya" Sasuke melakukannya secara sadar!

"Aw, selangkanganku perih. Aku tidak menggodamu, kita cuma bermain kartu kan? Dasar cabul!" Hinata merasa pahanya memerah

"Rasa sakit itu normal apalagi ini pertama kali buatmu, susah tau memasukkannya. Mungkin karena punyaku terlalu besar" Sasuke kenapa kamu tidak menutup tubuhmu!

"Aaaa.. i-itu punyamu kok berdiri?" Hinata tidak sengaja melihatnya

"Udah biasa, setiap pagi hari adik kecilku pasti bangun. Kamu belum pernah lihat?" Ucap Sasuke, santai

Hinata membekam mulut Sasuke "Bisa ga kamu diam?" Tangan Hinata dua-duanya memegang mulut Sasuke, dia lupa kain yang menutup tubuhnya tidak di talikan. Kain itu melorot dan terlihat si kembar ada di depan mata Sasuke

"Hinata, kalau siang gini jadi lebih jelas lihatnya. Tadi malam gelap ngga kelihatan" Tangan Sasuke menyentuh milik Hinata

"Aduuhh, jangan pegang-pegang Sasuke!" Hinata malu, dua tangan tidak cukup untuk menutup bagian tubuhnya

"Dia kelihatan repot sekali, hah.." Sasuke menghela nafas. Sasuke beranjak ke kamar mandi

***
Saat sarapan pagi tidak ada satupun yang menegur. Diam, hening, sampai kapan pasangan ini akan keras kepala.

Sendok Sasuke menabrak milik Hinata saat akan mengambil daging. "Minggir" Ucap Hinata

"Kamu marah?" Tanya Sasuke, dia sedikit merasa bersalah

"Berisik" Wajah Hinata terlihat ketus

"Kita sudah suami istri, itu wajar lah"

"Urusai!" Hinata terus berkata satu kata

"Baiklah. Aku pergi!" Sasuke membentak, dia merasa tidak dihargai oleh istrinya

"..."

~ Beberapa bulan kemudian ~
"Cuaca tokyo hari ini akan cerah, musim semi akan segera datang.." Sasuke sedang melihat berita pagi di televisi

"Uhukk uhukk.. hoek.." Terdengar suara Hinata yang mual-mual dari kamar mandi

"Hinata kenapa lagi?" Sasuke mengecek keadaan. "Kamu salah makan sesuatu?" Sasuke membantu memijat leher Hinata

"Hoek.. uhuk uhukk. A-aku ga tahu. Perutku mual, sebel gitu" Hinata masih terlihat ingin muntah

"Mungkin kamu sakit, nanti kita cek ke dokter" Saran Sasuke

"Oke"

"Dia sakit apa dok?" Sasuke dan Hinata berkunjung ke rumah sakit spesialis organ tubuh bagian dalam.

"Tidak sakit apa-apa. Kalau sedang hamil sudah biasa muntah-muntah" Jawab dokter Tsunade

"Hamil?" Hinata terkejut "Sejak kapan?"

"Sudah masuk bulan ke 3. Masih hamil muda, jadi harus dijaga ya" Tsunade terlihat bahagia untuk pasangan ini

"Wah kita punya anak Hinata.." Sasuke masih menyangka ini mimpi

"Padahal kita hanya pernah melakukan itu sekali" Hinata meratapi nasibnya

"Sudah berapa lama kalian menikah?" Tanya Tsunade, penasaran dengan kata 'sekali'

"Setahun 2 bulan" jawab Sasuke singkat

"Jadi kalian cuma pernah melakukan hubungan suami istri satu kali?"

"Iya dok, itu juga dilakuin pas aku mabuk. Dia yang cabul" Hinata curhat

"Kenapa kamu blak-blakan banget, Hinata" Sasuke menutup mulut istrinya "Permisi dok. Sankyuu"

Sasuke memaksa Hinata untuk pergi

"Kamu tidak suka mengandung bayiku?" Di dalam mobil mereka berdua masih bertengkar

"Bukannya tidak mau, apa kamu sudah siap jadi seorang ayah?" Tanya Hinata, sedang memasang sabuk pengaman

"Harus siap. Itu tanggung jawabku yang melakukannya" Sasuke menancap gas, mobil berjalan

'Tidak ku sangka dia mengharapkan seorang anak' Hinata melamun "Eh, jalan menuju apartemen kelewat, Sasuke.."

"Kita akan pergi ke suatu tempat.."

***
"Ini kejutan bagi Ibu, Sasuke jarang sekali dengan sendirinya berkunjung ke rumah" Mikoto senang bisa melihat Sasuke dan Hinata datang

Mereka berkumpul di ruang tamu. Fugaku tidak memiliki jadwal di kantor, dia juga ikut bergabung menyambut anak dan menantunya

"Ayah, Ibu, Hinata sedang hamil" Sasuke ingin memberi berita hangat pada keluarganya

"Yokatta.. Ayah, akhirnya kita punya cucu dari Sasuke" Mikoto memegang tangan Hinata, terlihat arti terima kasih dari pandangan matanya "Hinata-chan harus berhati-hati, jangan banyak bergerak ya.. Makan-makanan bergizi supaya anaknya pintar" *Makan sosis aja haha*

"Syukurlah kamu sudah berhasil, Sasuke" Fugaku turut bahagia

"A-ano, Sasuke tiba-tiba aku pengen makan Onigiri, Sashimi dan Yakisoba.." Hinata mulai ngiler membayangkan beberapa makanan yang terlintas di kepalanya

"Hinata-chan mulai ngidam. Cepat belikan apapun yang dia mau, Sasuke" Ibunya sangat semangat

"Oh, oke" Tubuh Hinata diangkat ke bahunya, seperti penculikan

"Turunkan tubuhku, Sasukee" Hinata meronta tidak mau dimanjakan

"Kamu akan aman di atas pundakku" Sasuke berdiri, mengangkat tubuh kecil Hinata

"Tapi perutku kegenjet" Wajah Hinata berubah menjadi jengkel

"Tubuhmu kuat. Ibu, Ayah, aku pergi dulu. Jaa~" Sasuke berjalan keluar pintu masih menggendong Hinata

"Ayah, mereka pasangan serasi sekali, benar?" Tanya Mikoto

"Hn.."

"Aku iri pada Hinata, ayah tolong gendong ibu juga ya" Godaan itu tak berhasil menggoyahkan sifat dingin Fugaku "Ayah dari dulu tidak romantis. Teknik bermain setiap malam selalu sama, meskipun begitu ayah paling sugoii" Wajah Mikoto memerah

Tanpa banyak omong kosong, Fugaku benar-benar menggendong istrinya. Sasuke menginspirasi ayahnya dalam hal merayu wanita.


If you see any mistakes, please do tell me right away in the comment box

- Copyright © 2013 Violet Lyrics - Gumi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -