September 28, 2013

SasuSaku Cerpen ~Behind Scene~ Fanfiction Sasuke & Sakura

Share & Comment

Sasuke Sakura Fanfiction

Disclaimer: Naruto @ Masashi Kishimoto
Behind The Scene
 by J
Fanfiction Rated M ~ SasuSaku
...
        Setelah pulang dari kedai ramen Ichiraku, seorang gadis bersurai merah muda segera pulang ke apartemennya yang tidak cukup jauh dari tempat nongkrong tadi sore, karena ini hari minggu mereka sering janjian untuk berkumpul bersama. Salju di awal bulan Desember sudah mulai turun, membuatnya ingin segera sampai di kamar untuk berendam diri dalam bathtube.

Rumah kostan yang terletak di pinggiran kota ini memang tidak terlalu bagus namun tidak jelek juga bangunannya. Ada dua gedung apartemen berlantai 4 masing-masing gedung, yang satu mengarah ke utara dan yang lainnya menghadap ke selatan, bisa dibilang saling bertatap muka.


Gadis itu memiliki nama yang indah—Sakura Haruno—dia kembali teringat pada obrolan Ino, si tetangga kamar kostannya yang membicarakan tentang penghuni baru kamar nomor 27. Kebetulan Sakura tinggal di kamar nomor 28 sedangkan Ino 29 dan Naruto 30, beberapa teman seperkuliahan menyewa rumah susun secara kompak agar mereka bisa berangkat ke kampus bareng. Ah iya, kembali ke permasalahan inti, Ino memberi kabar bahwa kamar 27 sudah ditempati lagi setelah sebulan yang lalu ditinggal oleh sang pemilik, sepasang suami istri yang dikenal dengan nama masing-masing Asuma dan Kurenai. Mereka hampir 2 tahun penuh menjadi penghuni setia kamar itu sebelum Sakura pindah ke sana, namun mendadak keduanya memutuskan untuk meninggalkan Konoha, berita yang didengar oleh Sakura sih katanya Asuma sudah membangun rumah baru bagi istri dan calon bayi yang sedang dikandung. Mereka ramah sekali pada tetangga lain, serasa kehilangan.


"Orang baru itu belum keluar sejak tadi pagi dari kamarnya" Ino berbisik pada Sakura


Entah kenapa hal sepele seperti ini merasuk dalam pikirannya dan membuat dirinya penasaran. Nenek Tsunade dan Kakek Jiraiya adalah penanggung resmi serta pemilik kostan, kamar mereka tepat menghadap ke arah pintu kamar kost bernomor 27, Tsunade lah yang pertama kali memberitahu Ino tentang keganjilan tersebut.


"Mungkin saat Nenek dan Kakek lengah, orang di kamar 27 keluar jadi siapa yang tahu kan?" jawab Sakura mencoba berpikir positif.


Menaiki anak tangga sambil dipenuhi banyak kemungkinan dalam benaknya, Sakura melamun hampir membuatnya kehilangan fokus menginjakkan kaki di lantai bertingkat, maklum karena masih masuk pedesaan jadi tidak ada lift maupun teknologi canggih yang diterapkan di rumah susun milik Tsunade.


Tulisan angka 27 disamping pintu terlintas oleh indera penglihatan Sakura, kamarnya kan berdekatan pasti dia melewatinya mau-tidak-mau sebelum masuk ke kamarnya sendiri. Awalnya Sakura mengacuhkan rasa keingintahuan pada gosip yang Ino katakan namun tekanan batin bisa membuat dia frustasi sepanjang malam bergadang ingin tahu kebenaran apa tentang sosok misterius dalam kamar itu.


Beberapa menit kemudian Sakura berjalan mundur, memantapkan hati berdiri di depan pintu. "Ini sudah jam 9 malam, jika yang dikatakan Ino benar bahwa orang itu tidak keluar sejak pukul 8 pagi berarti 12 jam lebih dia tetap disini, tidak mungkin seseorang akan mengurung diri di hari pertama pindah biasanya mereka sibuk mengangkut barang dan menatanya, kan?" tangan kanan Sakura diangkat hampir akan mengetuk pintu tapi dihentikan.. "Ah, tidak sopan" dia menghela napas panjang, merundukkan kepala "Atau jangan-jangan orang itu sedang sakit, tidak bisa bangun dari tempat tidur atau terlalu lemah untuk berjalan keluar? Bagaimana kalau orang itu punya penyakit jantung? Oh Tuhan, dia pasti ingin meminta tolong tapi tidak bisa berteriak! Aku harus.. harus menolongnya.." niatnya kembali dijeda. "Apa aku perlu meminta Kakek Jiraiya saja untuk mengecek penghuni kamar ini? Tapi aku tidak enak hati malam-malam begini mengganggu hanya karena penasaranku teramat tinggi.." Akhirnya Sakura hanya ingin mencoba memastikan dari luar, dia membuka lebar telinga sebelah kirinya kemudian ditempelkan di pintu berbahan logam itu. Meresapi, berfokus mengambil suara apapun dari dalam ruang tapi hasilnya ruangan itu seperti kuburan sunyi-senyap, suara jangkrik pun tidak terdengar sama sekali. Sakura makin mendekatkan wajahnya, membolak balik telinga kanan-kiri bergantian menempel di pintu "Apa perkiraanku benar?"


Mendadak pintu terbuka sehingga beban tubuh Sakura yang tertahan di pintu menjadi kehilangan keseimbangan lalu dia ambruk hampir mencium lantai beton


"Aduh sikut gue, pinggang gue, encoknya kambuh lagi..." menggerutu dengan volume yang cukup keras


Terlihat bayangan hitam buram berdiri menjulang tinggi dihadapan Sakura, dia belum bersuara hanya tetap berada ditempatnya memperhatikan gadis ini bergumam dalam bahasa asing, terdengar @#$%^&**))*& bagi Sasuke


Saat mendongakkan wajah, mata sakura membulat penuh. Keringat panas dan dingin bercampur mengucur deras di belakang punggungnya.


"Kau tidak apa-apa?" seru pria berambut mencuat-cuat ke belakang dan sedikit gondrong itu.


Sakura menepuk celananya karena agak kotor terkena debu lantai lalu berkata "Ah, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir"


Pria itu bertanya-tanya tadi sepertinya gadis ini tidak berbahasa Jepang. Rambutnya juga berwarna mencolok, matanya tidak sipit seperti mayoritas Japanese tapi saat ditanya, jawabannya berbahasa Jepang.


Keadaan sekitar tiba-tiba menjadi riuh, pintu kamar membuka cepat, berbagai pertanyaan terlempar tumpang-tindih


"Ada apa berisik sekali?"


"Apa yang terjadi malam-malam gini?"


"Siapa yang berteriak?"


"Kak, apa ada pencuri?"


"Mana tongkat bisbolku? Ten-ten ambil sapu lidi!"


Semua para tetangga dari nomor kamar 20 sampai 26 meriung TKP. Sakura dan pria gondrong itu melongo melihat keadaan disekelilingnya


"Ah ini kan Sakura.." Tenten menurunkan sapu lidi yang tadi dia genggam lalu mencoba membantu Sakura yang masih duduk terkapar dilantai "Kau baik-baik saja, senpai?"


"Tenten-chan tidak apa, aku tadi.." Sakura bangun dan bergabung bersama 6 orang yang sudah dia kenal


"Kau siapa? Pasti sudah melakukan kejahatan pada Sakura, nee?"


Eh tunggu sebentar, kejahatan?..


"Namaku Sasuke Uchiha, aku orang baru yang menghuni kamar ini"


Jiraiya dan Tsunade datang terlambat, mereka memakai piyama sembarang karena terburu-buru menuju kebisingan.


"Tenang dulu, Kiba.. dia bukan orang jahat" sela orang tua yang seluruh rambutnya hampir berwarna putih salju ini


Kiba mengedip-ngedipkan mata "Rasanya tadi pagi aku lihat orang ini deh, oh jadi kau anak baru itu?"


"Benar. Karena aku kecapekan baru tiba di Konoha jadi aku tidak sempat berkenalan dengan para tetangga, gomennasai~"


"Ah tidak apa-apa, kenapa Nak Sasuke tinggal di kamar seharian?" tambah Tsunade


"Sudah kubilang orang itu ngga keluar dari kamar, kau tidak percaya ya?" Ino menarik lengan Sakura menjauh dari kerumunan dan berbisik empat mata saja


"Ano, a aku hanya mau memastikan orang ini sakit atau tidak soalnya kalau dia sekarat aku jadi bisa membawa dia ke rumah sakit Shizune"


"Sakura.."


Suara berintonasi menaik memanggil namanya, dia takut dicurigai telah melakukan pengintipan, dia tidak mau orang lain salah paham


"i-iya Nenek Tsunade.." timpalnya seraya berjalan mendekati wanita tua yang sudah dia anggap anggota keluarga sendiri


"Apa yang terjadi tadi?"


Tuh kan! Sakura memutar bola mata, badannya gemetar. Sasuke hanya melirik ke arahnya dengan tampang tanpa dosa, memang bukan Sasuke yang salah


"Tadi aku jatuh terpeleset.."


"Bukan" Sasuke memotong kalimat "Sepertinya kau sengaja mengutit kamarku karena aku melihat bayangan seseorang berdiri di luar jadi aku kira ada orang yang akan bertamu"


Sakura mencubit kulit perut Sasuke dari balik baju tidur tipis "Ngg-ngga ada kerjaan banget ngintip kamar orang baru, beneran kok aku jatuh karena lantai licin"


"Aww, apa yang dia lakukan padaku!" dalam hati Sasuke heran


"Serius?" Ino berkacak pinggang


"He-em suer deh" dua jari Sakura mengacung membentuk huruf V


"Ya sudah kalau begitu kalian kembali ke kamar masing-masing, sudah malam. Lain kali hati-hati berjalan yah" Tsunade menepuk bahu Sakura


"Hai!"


"Ada-ada aja kelakuan anak muda sekarang" decih Neji


"Kau juga kan masih muda, sayang.." Ten-ten menggelayut di lengan pacarnya itu


Saat yang lain sudah kembali ke alam masing-masing, Sakura masih berdiri di tempatnya


"Rasanya aku pernah melihatmu di suatu tempat" Sakura memiringkan kepala menatap samar pada Sasuke.


"Sudah ribuan kali wanita berkata seperti itu padaku" Sasuke membalas dingin


"Ih serius. Rambutmu mengingatkanku pada cinta pertamaku.. eh-"


"Cinta pertama.. maksudmu? Aku mengantuk, silahkan pulang ke kamar mu, gadis pink" Sasuke menunjuk-nunjuk ujung hidung Sakura berkesan mengusir


"Iya iya tanpa disuruh pun aku pengen cepet cepet pergi dari sini"

***
Musim salju beberapa tahun silam di sebuah sekolah dasar Konoha, Sakura harus menerima hukuman dari guru setelah bentrok dengan Naruto karena mencoba merampas kalung liontin pemberian ayahnya. Kini dia masih menulis "aku tidak akan berantem dengan Naruto lagi" sebanyak 100 kalimat di buku tulisnya, padahal yang salah adalah pria kuning itu.
Kalung bergambar foto keluarga Haruno diberikan di ulang tahun Sakura beberapa bulan yang lalu, sudah cukup lama kalung itu melingkar di leher jenjangnya. Sakura menjaga baik hadiah mewah yang pertama kali diberikan oleh Kizashi, dia tidak ingin satu goresanpun menempel di bandul liontin berbentuk hati tersebut.

"Lihat Sakura, ih pelit amat jadi cewek" gerutu Naruto sambil memaksa menyentuh kalung Sakura


"Jangan bodoh, kau pasti akan merusak kalungku karena kau ceroboh" Sakura keukeuh tidak memberi izin bahkan hanya melihatnya dari jarak 1 meter saja diharamkan bagi Naruto Uzumaki


Grap, jemari Naruto menarik kalungnya sampai terputus lalu dia berlari melewati jendela keluar taman melayang-layangkan liontin putih yang dia rebut


"Horee, ambil ini kalau kau mau ini kembali padamu" Naruto suka menjaili anak gadis terutama Sakura, teman sebangkunya


Alhasil dari tubuh Sakura keluar aura menyeramkan, dia pasti tidak akan mengampuni Naruto dan menghajarnya sampai bonyok. Dia menyusul berlari sangat cepat untuk menangkapnya


"Kembalikan kalungku, Narutoooo!!!"


"Tidak mau"


15 menit Naruto membuat Sakura berkeliling sekolah mengejarnya, sakura kehabisan nafas, cuaca dingin membuat tubuhnya keram tiba-tiba.


"Hiks..hikss.. kau jahat, awas kau" dia menangis karena terlalu marah, barang itu sangat berharga baginya. Kenapa Naruto bisa menganggap ini sebuah lelucon? Teganya dirimu.. teganya.. teganyaa *lagu Meggi Z


"Ternyata kau disini.." buronan muncul dengan sendirinya dihadapan Sakura. Mungkin saat itu Naruto tidak mendapati Sakura di belakangnya lagi jadi mencoba mengecek kembali ke samping basement SD


Mata sakura berkerling 'Kau mau bunuh diri ya?' dalam hatinya berucap. Dia mengusap air mata dari pipinya kemudian langsung melancarkan aksi jambak-kuncir-rambut secara membabi buta


"PUAS LO PUAS NGEJAILIN GUE!!"


"Ampun..ampun..sakit sakura"


Tubuh Naruto yang pendek hitam dan gemuk diputar membelakang dijatuhkan sampai tengkurap, Sakura menindih punggungnya dengan Sikut. Tangan kiri menjambak rambut dan tangan kanan mengunci tubuh Naruto agar tidak bisa bergerak


Saat itulah guru Kakashi datang melihat pemandangan smackdown ala Sakura yang mirip preman pasar dan Naruto terlihat sebagai korban.


"Mana kalung gue?" sebelum Sakura dibawa ke ruang BP, dia menagih benda sah miliknya


"Ga tau tadi pas kau melabrak tubuhku ke tanah kalungnya lepas dari genggaman, salah sendiri main tubruk-tubruk sembarangan" Naruto menyilangkan lengan di depan dada, berwajah acuh seakan tidak bersalah


"KAUUU!!! rrrr.." Sakura berlari ke belakang sekolah untuk mencari kalungnya tanpa peduli guru Kakashi tengah berceramah mengusung tema perdamaian dunia dan akhirat


Uap dingin muncul saat Sakura menghembuskan nafas, seperti kepulan asap rokok. Cuaca di luar ruangan menjadi lebih dingin minus 2, Sakura hanya berpakaian kaos merah oblong tanpa memakai mantel. Sekarang yang dia pedulikan adalah kalungnya bukan tubuhnya.


"Uhuk uhuk,," berusaha keras mencoba menutupi rasa dingin yang menusuk tulang tidak ada gunanya. Hidung Sakura sudah memerah, bibirnya beku membiru pucat


"Aku tidak boleh menghilangkannya.. ayah, maafkan aku.."


"Sedang apa anak kecil?"


Sakura menoleh ke arah suara di belakangnya, wajah orang yang memanggilnya tidak begitu jelas karena pencahayaan buram dan badai salju ditambah angin kencang membuyarkan pandangan. Dia mengangkat sebelah tangan untuk menaungi mata dari angin, ternyata disana berdiri murid laki-laki bertopi wol warna biru tua


"Sedang mencari sesuatu.." Sakura mengalihkan pandangan ke tanah lagi, mengorek-ngorek tumpukan salju dengan batang kayu


"Oh, apa itu?"


"Sebuah kalung"


"Bentuknya hati kan? ada gambar bapak berambut star dan ibu berambut kuning pirang"


Belum juga satu menit Sakura membelakangi orang itu, dia sudah menemukannya "Benar! mana mana?" dengan antusias dia bangun dari jongkok lalu menghampiri siswa itu


"Ini.. jaga baik-baik jangan sampai benda sekecil ini hilang di tengah badai salju"


"HEY SASUKE.. CEPAT NANTI KEBURU BADAINYA MAKIN BESAR.."


"Oiii.. aku kesana sekarang" setelah memberikan kalungnya pada Sakura, anak itu pergi berlalu begitu saja karena teman-temannya memanggil dari sebelah lapangan.

 ***
"Pasti kau belum memberi kabar pada ibu?" Tanya seorang pria berjas rapi dan rambutnya dikuncir satu.

Sasuke mengalihkan pandangan yang sedari tadi memusat ke luar jendela kamar apartemennya "Belum. Memangnya aku ini seperti Kakak, sudah besar tapi tetap anak mami"


"Bukan masalah anak mami atau tidak, tapi dia pasti khawatir karena tiba-tiba kau pulang ke Konoha. Ayah dan Ibu akhir-akhir ini tengah sibuk dengan pekerjaan di New York, walaupun mereka jarang memperhatikan—"


"Dingin sekali cuaca hari ini, yaa?"


Itachi mendecih kesal "Jangan mengalihkan topik pembicaraan, apa kau tidak sayang pada orangtuamu?"


Sejak kecil Sasuke seperti terasingkan dalam keluarga Uchiha. Fugaku pasti lebih mempercayakan segala urusan bisnis pada kakaknya, semakin dewasa Sasuke memahami lebih dalam status dirinya dalam keluarga—hanya menjadi pajangan semata


"Harusnya Kakak menanyakan itu pada ayah dan ibu, apa mereka peduli pada anak bungsu mereka?" Sasuke mengambil 2 gelas cangkir teh hangat dari dapur


"Mereka sangat sayang padamu.. amat sayang.." Itachi mengekor Sasuke dari belakang


"Aku sudah memberitahu dari awal bahwa aku akan pindah kewarganegaraan Jepang saja, perlu proses memang tapi di New York membosankan. Aku akan satu rumah dengan Kakak sampai kakak menikah, hehe.." dia menyodorkan salah satu dari minuman yang disajikannya


"Ha? Kau kan sudah punya apartemen ini? Aku aku.." Itachi kebingungan. Dia memang belum menikah dengan Karin tapi jika Sasuke berada di rumahnya, itu berarti Itachi tidak bisa bebas melakukan 'hal menyeleweng' yang sudah menjadi rutinan malam minggu bersama kekasihnya itu


"Hoaaa, wajahmu jadi pucat!" Sasuke tertawa terbahak menipu Itachi "Santai aja bruder, aku tidak akan menjadi pengganggu.." dia meneruskan kalimatnya dalam hati 'Bisa-bisa aku jadi kambing conge mendengar desahan kalian saat melakukannya' sepertinya Sasuke mengerti banyak tentang Itachi


Akhirnya Itachi bisa berlapang dada.. "Oh ya, ini untukmu" dia mengodok kantung jas


"Hp baru? Aku sudah punya.." Sasuke mengembalikan benda pemberian Itachi tapi segera ditolak balilk oleh kakaknya


"Yang ini khusus untuk kita berdua berkomunikasi. Di ponselmu pasti banyak nomor wanita yang menghubungimu" Itachi mendorong uluran tangan Sasuke.


"Ini rencana agar kau bisa melapor setiap hari pada Ibu, iya kan?"


"Hus. Begini-begini juga aku punya banyak hal penting lain yang mesti aku kerjakan bukan hanya merecoki urusanmu" Itachi menyentil dahi adiknya


"Itai! oke oke.. asal kau tidak mengkhianatiku saja" dielus-elus bagian keningnya yang terkena sentilan keras sampai membuat merah "Arigatou.." dia memasukan ponsel itu ke saku kemejanya


"Kalau begitu aku pergi dulu ya, ada urusan" Itachi meletakkan cangkir teh diatas meja makan, mengambil topi yang dia kaitkan dibelakang pintu rumah bergegas pergi


"Mau kemana, Kak?"


"Ke tempat biliard. Kau tidak suka datang ke tempat seperti itu jadi tidak aku ajak" balas Itachi. Dia memakai sepatunya kemudian melambaikan tangan tanpa bertatapan


"Hn.."

***
"Ino, Naruto atau Kiba dah datang belum?" Sakura nyelonong masuk ke apartemen bernomor 29

Si pemilik rumah sudah terbiasa dengan kelakuan tidak sopan sahabat dekatnya ini "Belum tuh, katanya di kampus lagi banyak tugas skripsi dan praktek" Ino sedang menonton sinetron kesukaannya "Kyaaa, aduh padahal sedikit lagi mereka berciuman!" memasang wajah ketus pada televisi


"Kau bisa bantu aku untuk memasang bola lampu? Di kamarku listriknya padam.. gelap banget"


"Ngga bisa. Suruh kakek Jiraiya aja, aku lagi sibuk nonton" balas Ino


"Ini udah malam masa aku minta Kakek untuk membenarkan listrik, penglihatannya pasti sudah kabur"


"Kalau gitu tunggu anak lain pada pulang. Kalau kau ngantuk tidur saja, ga bakal ada hantu yang menggigit"


Sakura tiba-tiba menghalangi televisi dengan berdiri mematung di depannya sambil melebarkan tangan "Boleh ga aku tidur disini?"


Ino mengibas-ngibaskan tangan "TI-DAK BO-LEH. malam ini Shikamaru yayang akan datang ke apartemenku"


Sakura memasang wajah cemberut. "Hacihh.."


"Kau flu?"


"Iya nih. Pekerjaan di salon semakin padat pengunjung, aku jadi pulang larut malam terus.. haciiih" dia mengendus panjang iler dihidungnya yang hampir turun


"Cepat keluar jangan menyebarkan virus di kamar orang.." Ino mendorong tubuh teman pink nya sampai terperanjat hampir jatuh


"Jahat! awas kau akan kubalas nanti!" Sakura menggebrak pintu Ino saat marah


"LA LA LA, aku tidak dengarrr" teriak dari dalam ruangan


Begitulah persahabatan diantara mereka, tapi tetap saling membutuhkan dan tidak bisa tanpa satu sama lain.


Sakura menggosok pelan telapak tangannya, menunggu Kiba atau Neji atau bisa juga Naruto untuk dimintai tolong. Jam hampir menunjukkan 10 malam, tidak ada satupun yang nongol.


"Bagaimana ini? aku takut kalau kamarku gelap.." Sakura mendesah panjang. Dia berjalan bolak-balik berpikir keras apa yang mesti dia lakukan. Lalu teringat pada penghuni kamar nomor 27, apa boleh dia minta bantu ke orang yang baru dia kenal kemarin?


tok tok tok..


Pintu membuka, kepala landak muncul "Oh, Sakura.." ucap Sasuke, datar


"Ngg.. bisakah kau membantuku sekali saja?"


~~~

"Nah tinggal dipegang dudukannya, trus diputar. Selesai" Sasuke memberi pelajaran—ceritanya "Kau harus belajar, wanita pun jangan sampai kalah melakukan ini"

"Aku tidak bisa melihat dalam kegelapan, dan takut kesetrum.." gerutu Sakura


"Tidak mungkin kesetrum kalau pegangnya benar. Coba nyalakan" suruh Sasuke.


Pada akhirnya dengan berat hati Sakura memilih meminta tolong pada Sasuke untuk memasang bola lampu di kamarnya. Apartemen itu cukup sederhana seperti bentuk rumah Jepang kuno, berdinding triplek bukan dinding bata dan semen. Ketinggian atap juga hampir menempel di puncak kepala, jadi Sasuke tidak perlu menggunakan tangga.


"Asik, nyala! Makasih banget makasih.." spontan Sakura memeluk tubuh Sasuke karena kegirangan


Keduanya bengong..


"Eh eh aduh maaf aku refleks melakukannya tadi, ja-jangan dimasukin ke pikiran.." Sakura melepas pelukannya, dengan malu-malu mencari alasan untuk meluruskan kesalahannya


"Hn, siapa juga yang peduli" timpal Sasuke. "Bayarannya kau harus mentraktirku makan siang"


Sakura memberi anggukan. Dia tidak ingin suatu hari nanti ditagih hutang budi oleh Sasuke,jadi kalau bisa selesaikan saat itu juga.


Keesokan harinya Sasuke sudah menunggu di halte bis. Beruntung cuaca siang ini tidak terlalu bersalju dan sinar matahari muncul dibalilk awan memberi sepercik kehangatan.


Sakura bersiul di sepanjang jalan untuk menghilangkan rasa gugup. tapi karena suaranya sedang sengau siulannya itu terdengar bagai balon kempes.


"Oh dia pasti sudah menungguku lama.." Sakura berteriak "Oi Sasuke.. maaf telat" berlari kecil menghampiri


Sasuke hanya melirik dengan tatapan kosong "Mau makan dimana kita? sudah lama aku meninggalkan kota ini dan banyak perubahan. Jalan menuju apartemen saja kadang aku lupa"


"Uuuh, apa pekerjaanmu?" Tanya Sakura, sedikit memonyongkan bibirnya


"Apa perlu aku memberitahumu?"


"Ngga juga sih. Dilihat dari tampangmu kau pasti seorang photograper atau anak boyband" jari sakura membentuk persegi sebagai kamera shoot dan kelopak mata kirinya dikedipkan


"Ngga nyambung kali omongannya" Sasuke mulai berjalan ke arah penyebarangan, lampu pejalan kaki menyala itu berarti orang-orang disana akan segera berlalu lalang


"Ih, kalau kau seorang seniman harusnya kau tidak pikun mengingat nama jalan.. maksudku begitu.. eh" di tengah zebra cross Sakura tersenggol oleh lautan manusia dari arah berlawanan. Namun orang yang tadi dia ajak ngobrol menghilang, Sakura kebingungan.. Sasuke bilang dia tidak hafal jalan dan kota di Jepang, bagaimana kalau Sasuke nyasar? dimana dia? Sakura mencari ke kanan dan ke kiri, tidak ada si kepala emo


"Aduh.." Sakura kembali terdorong dan nyaris jatuh


"Sebenarnya kau sedang apa? Menyebrang jalan saja tidak bisa" suara yang seminggu ini tidak asing terdengar jelas disamping telinganya. Sasuke menahan pundak Sakura dan menarik lengannya memipin melewati kerumunan


'Orang ini.. aku merasa dia tidak asing bagiku..'


"Hey.. kau melamun lagi?" mereka sudah sampai disamping jalan.


"Aku tidak melamun, Sasuke-kun. Nee, setelah makan siang mari kita pergi ke daerah persimpangan Shibuya, kau mau ikut?"


"Boleh. Aku ingin melihat suasana baru disana"

~~~
Sasuke menyandar ke sandaran bangku kafe, membuka layar laptop yang dia bawa di tasnya. Sakura masih menikmati spagetti sedangkan Sasuke sendiri belum selesai menghabiskan pesanannya

"Kenapa tiba-tiba kau datang kemari? aku dengar kau dari New York" Sakura mengelap pinggir bibirnya dengan tisu karena minyak belepotan


"Ingin mencari suasana baru"


"Hanya itu?"


"Memangnya harus bagaimana?" Sasuke mengadahkan wajahnya sekilas ke arah Sakura lalu kembali menggeser mouse pad laptopnya.


Disaat melamun Sasuke pasti akan membuka folder yang penuh dengan foto-foto fullscreen, memang ini seharusnya tidak boleh dilakukan, foto yang dia ambil dengan kameranya sendiri beberapa tahun yang lalu bersama wanita yang dia cintai..


"Cantik sekali wanita itu, dia pasti pacar pertamamu?"


Deg.. Sasuke buru-buru menutup layar laptonya "Lancang sekali mengintip privasi orang lain!" Sasuke blushing merona


Sakura penasaran ketika bawelannya tidak ditanggapi oleh Sasuke lalu berjalan mengendap-endap ke kursi belakang Sasuke, dia kira pria ini sedang menonton bokep atau sejenis lain-lainnya (?) >.<


"Ceritakan saja padaku.. Gantian sekarang giliranmu, beberapa tentangku sudah aku paparkan jelas jadi tidak akan adil jika kau menutup sebagian cerita hidupmu"


"Namanya adalah Karin, dia gadis pertama yang membuatku jatuh cinta.. tapi lebih memilih Kakakku sebagai pacarnya" jelas Sasuke sambil curhat


"Nani? selingkuh dengan kakakmu sendiri?" Sakura terbawa suasana


"Tidak selingkuh karena aku dan dia belum sempat menjalin hubungan" Sasuke terlihat murung.


Sakura berinisiatif menghiburnya, dia mengajak Sasuke masuk ke arena permainan di dekat kafe.

***
"Kita akan pergi kemana?" mata Sakura ditutupi sapu tangan. Dia dituntun tangannya, turun dari mobil beberapa meter berjalan ke suatu tempat

"Kau akan melihatnya setelah aku bilang boleh dibuka" jawab sosok yang tersenyum manis merangkul erat gadis berambut pink ini


"Aku tidak sabar ingin melihat kejutannya.." terbayang penuh fantasi di otaknya mulai dari sebuah pesta atau dibawa ke bioskop, hey Sakura doyan nonton film percintaan terbaru di bioskop dekat apartemen meskipun dia bilang takut jika berada di tempat gelap gulita namun segelap apapun di bioskop Sakura tidak akan takut, katanya haha


"Silahkan lepas penutup matamu" bisik Sasuke. Ya ampun desahan suaranya kerasa hangat bikin merinding


Perlahan mata hazel nya terbuka, disana terlihat sebuah meja bundar dihiasi pernak pernik natal seperti pohon cemara besar berserta lampu-lampu menerangi sekelilingnya. Di tengah kota dekat air mancur, Sasuke menyewa tempat kencan untuk Sakura.


"Cinta pertamaku adalah kau, orang yang dulu menemukan liontinku di tengah hujan salju"


Sakura masih ingat jelas sosok pria pangeran di masa kecilnya. Dia menunggu sampai lebih dari 10 tahun, akhirnya bisa bertemu kembali tanpa kesengajaan.


Awalnya Sasuke tidak percaya pada apa yang diungkapkan oleh Sakura namun seiring berjalannya waktu kehadiran Sakura disampingnya membuat dia lupa akan cinta pada Karin yang sudah lama hancur.


"Aku mencintaimu.." Sasuke berkata sambil memeluk tubuh Sakura.


"Kau sudah ingat pada kejadian hari itu?" tanya Sakura, rasa terkejut bercampur heran dan bahagia menimbulkan rasa nano-nano di lidah (?)


"Ya.. bukankah kau mencintaiku juga?" Sasuke melepaskan dekapannya, sedikit-demi-sedikit bibirnya menempel mencium dahi, hidung, dagu kemudian bibir mungil Sakura


"Arigatou, sasuke.. aku mencintaimu.." Sakura mengalungkan lengannya di leher Sasuke.


Hari Natal tahun ini sangat berkesan bagi keduanya—


"CUT CUT!!!"


Code out sudah muncul di layar..


"Akhirnya selesai juga take terakhir" Sasuke melepas dasi karena pengap


"Bagian pencahayaan dan kamera, kalian sudah boleh istirahat. Saya akan melihat hasil dubbing untuk proses cutting gambar" Produser sekaligus Sutradara—Masashi Kishimoto— menyeru seluruh crew untuk masuk ke dalam mobil karena salju turun makin besar


"Aktingmu bagus. Aku yakin film kita kali ini akan laris di pasaran" Sakura meneguk jus orange dari botol.


"Tidak banyak yang bisa dijelaskan dibagian tengah cerita, pengambilan gambar untuk bagian endingnya super ekspress, cuma sehari. Wow!" Sasuke menunjukkan ekspresi bangga dan puas diri atas hasil kerjanya


"Aku ga bisa lama-lama disini.."


"Uh yang baru nikah kemaren, cie cie pengantin baru" pria yang dikenal dingin dalam film malah mencibir genit pada teman se-per-filmannya


Sakura menggaruk kepala, malu "Hampir sebulan ini kami belum ketemu karena lokasi syuting dipindahkan mendadak jauh dari rumah. Gila banget tuh penanggung jawab film, ah yang penting semuanya dah kelar. Sampai jumpa besok, Sasuke!" Sakura mengambil mantel berbulu dari kursi lalu keluar dari mobil CAST


"Sampaikan salamku ke Naruto, jaga suamimu baik-baik dan segera punya anak!"


"WOKEYY!!" Sakura membalas berteriak


Sasuke mengedarkan pandangan ke sekeliling, tidak ada orang yang biasanya menunggu dia di dalam mobil sambil menyiapkan bento.


"Kabuto, kau lihat pacarku tidak?" tanya Sasuke pada salah satu pekerja yang bertugas memegang kabel sepanjang hari


"Tadi aku lihat dia bersama Tuan Masashi di ruangan review film"


"Sankyuu.." Sasuke menepuk pelan bahu Kabuto lalu pergi


Melewati koridor panjang di ruang kantor itu punya banyak ruang lab, beberapa kali dia mencari membuka pintu tapi tidak ada. Apa mungkin dia sudah pulang? Sekarang sudah jam 8 malam,, Sasuke menggerutu kesal dalam batinnya. Sampai di ruang ke lima..


"Kenapa tidak sms aku sih, capek tahu nyariin kau dimana-mana" Suara nafas terdengar memburu


"Sttt.. berisik, aku sedang menonton karyamu" timpal gadis berambut panjang itu.


"Masashi-san dan yang lain kemana?" Sasuke mengambil tempat duduk disampingnya


"Mereka sudah pulang lebih awal"


"Kau tidak takut sendirian disini? mana gelap gulita, sepi lagi"


Hinata merasa terinterupsi, dia memberikan tatapan deathglare ke arah pria yang kini terkenal setelah membintangi beberapa drama percintaan


"Iya iya maaf.. palingan hantu nya yang takut ngelihat tatapan membunuhmu itu"


"Kau dan Sakura cocok sekali sebagai pasangan" Hinata menutup camcorder dan melepas headphone setelah tulisan END muncul di layar


Sasuke mengangguk "Benar, fansku juga memberi mention menyuruhku untuk jadian dengan Sakura. Ha resiko menjadi bintang ya beginilah.. kau jangan cemburu" Sasuke mencolek dagu gadisnya


"Aku tidak cemburu.." dia mendorong kursi kemudian berjalan pergi


"Eh eh, tunggu aku" Sasuke mengikuti langkah kakinya diseiramakan "Di majalah juga tidak sedikit yang menyukai peranmu sebagai kekasih Naruto"


"Jadi?"


"Jadi? kok jadi?" Sasuke menarik alisnya menaik


"Kau cemburu.." Hinata menekan tombol lift, pintu membuka lalu mereka masuk ke dalamnya


"Hn"


"Kau adalah milikku dan aku juga milikmu jadi tidak perlu cemburu" Hinata tetap menatap lurus pandangannya, tidak memberi senyuman, tidak menoleh bahkan membiarkan Sasuke salah tingkah menganggap dirinya sedang marah. Dua karakter ini saat di depan kamera dan di dunia nyata bersifat tolak belakang.


"Hinata.. kau sakit?" Sasuke berpura-pura mengelus wajah Hinata


"Tidak kok.."


"Bibirmu pucat sekali, sayang.." dia mendorong tubuh Hinata menempel ke dinding, tanpa aba-aba mengeluarkan jurus tekanan batin yang spontan namun menggairahkan


"Hm.. be gentle, please" Hinata kehabisan nafas diemut mulutnya oleh Sasuke


"Aku kangen banget sama kamu.." Sasuke menepuk puncak kepala Hinata, menggeser jajaran poni yang berbaris rapi menutupi alis mata gadis itu "Parfume baru ya?" sasuke mencium lehernya, aroma wangi tertangkap indera penciuman

SasuHina Sasuke Hinata
"Ini parfum yang kau beri padaku saat di paris, pilihanmu selalu bagus" Hinata memperpendek jarak tubuh mereka, menarik Sasuke menekan dadanya "Uchiha-san.."

"Hn?"


Pintu lift membuka, sudah sampai di lantai dasar kantor. Tapi Sasuke memijit angka 10 lagi menuju ke lantai atas


"Biarkan malam ini aku menikmati waktu bersamamu hanya berdua.."


Pintu terutup.



FIN

*katanya SasuSaku kenapa endingnya.. = sepanjang cerita seluruhnya Sasuke dan Sakura, sesuai judul "di belakang layar" Haha.. aku tidak mau ceritaku mudah ditebak akhir ceritanya


Tags: , ,

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © Violet Lyrics | Designed by Templateism.com